Market mulai berubah arah setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Emas yang sebelumnya jatuh kini mulai rebound mendekati US$4.500, sementara dolar AS tetap bertahan kuat meski muncul harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, di balik optimisme itu, trader masih menghadapi satu masalah besar: inflasi AS belum benar-benar turun, dan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama masih membayangi pasar.
Emas Menguat ke $4.500
Harga emas (XAU/USD) mulai pulih pada perdagangan sesi Asia Jumat setelah sempat menyentuh level terendah dua bulan sebelumnya. Logam mulia itu kembali bergerak mendekati area US$4.500 per troy ons setelah market merespons perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka pembicaraan lanjutan terkait program nuklir Iran. Kabar ini langsung mengubah sentimen market karena investor mulai melihat peluang meredanya konflik yang selama tiga bulan terakhir menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dan inflasi global.
Kenapa Emas Bisa Rebound Setelah Sempat Anjlok?
Sebelumnya emas mengalami tekanan besar akibat:
- Penguatan Dolar AS
- Naiknya yield obligasi AS
- Spekulasi suku bunga tinggi lebih lama
Namun, setelah muncul harapan deeskalasi konflik AS-Iran, market mulai melakukan profit taking pada dolar AS dan obligasi sehingga emas mendapatkan ruang untuk rebound.
Selain faktor geopolitik, data inflasi AS juga ikut membantu pergerakan emas. Data terbaru dari Bureau of Economic Analysis menunjukkan:
- PCE AS naik 3,8% YoY
- Core PCE naik 3,3% YoY
Hasil tersebut memang sesuai ekspektasi market, tetapi tidak memberikan kejutan inflasi tambahan yang sebelumnya ditakuti trader. Karena itu, market mulai sedikit mengurangi kepanikan terhadap potensi kenaikan suku bunga agresif dalam waktu dekat.
Tapi Kenapa Dolar AS Masih Menguat?
Meski emas rebound, indeks dolar AS (DXY) tetap bertahan kuat di sekitar level 99. Ini menunjukkan market belum benar-benar yakin bahwa risiko global sudah selesai. Trader masih mempertimbangkan beberapa faktor:
- Donald Trump belum menyetujui penuh kesepakatan Iran
- Negosiasi masih bisa gagal
- The Fed masih cenderung hawkish
- Inflasi AS masih jauh di atas target 2%
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengatakan bahwa kedua negara memang semakin dekat dengan kesepakatan, tetapi belum mencapai tahap final.
Artinya, market masih bersikap hati-hati.
Fokus Trader Sekarang: The Fed dan Inflasi
Meskipun konflik Timur Tengah mulai mereda, perhatian utama trader forex sekarang kembali ke kebijakan . Data Core PCE sebesar 3,3% menunjukkan inflasi AS masih cukup tinggi dan belum kembali mendekati target The Fed.
Akibatnya, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama masih besar. Menurut CME FedWatch, trader bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Ini sangat penting bagi trader karena:
- Suku bunga tinggi biasanya mendukung USD
- Yield obligasi cenderung naik
- Emas menjadi lebih sulit bullish agresif
Jadi meski emas rebound, market belum sepenuhnya berubah menjadi bullish.
Harga Minyak Malah Turun Tajam
Berbeda dengan emas, harga minyak justru mengalami tekanan cukup besar. WTI turun mendekati US$87 per barel setelah market mulai memperkirakan jalur distribusi energi global bisa kembali normal jika gencatan senjata diperpanjang. Ada laporan bahwa Iran bersedia membersihkan ranjau di Selat Hormuz dalam 30 hari apabila kesepakatan berjalan lancar. Bagi market energi, ini kabar besar.
Karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling penting untuk pengiriman minyak dunia. Jika jalur tersebut kembali stabil:
- Risiko gangguan suplai berkurang
- Tekanan harga energi menurun
- Kekhawatiran inflasi global sedikit mereda
Inilah alasan minyak turun hampir 15% sepanjang bulan ini.
Dampak ke Market Forex
- Dolar AS tetap relatif kuat
- Mata uang safe haven mulai mixed
- Pair sensitif risk sentiment menjadi volatile
Trader sekarang berada dalam fase market yang sangat headline-driven. Satu berita tentang:
- Trump
- Iran
- The Fed
- Inflasi AS
Bisa langsung memicu pergerakan besar dalam hitungan menit.
Outlook XAU/USD dan DXY ke Depan
Untuk jangka pendek, arah emas kemungkinan masih dipengaruhi oleh dua faktor utama:
- Perkembangan negosiasi AS-Iran
- Ekspektasi suku bunga The Fed
Jika konflik benar-benar mereda, maka safe haven demand emas bisa berkurang.
Namun jika inflasi AS mulai melunak:
- Peluang pemangkasan suku bunga bisa kembali naik
- Emas berpotensi menguat lagi
Sementara itu, Dolar AS kemungkinan tetap kuat selama:
- Yield obligasi tinggi
- The Fed masih hawkish
- Inflasi belum turun signifikan
Bagi trader forex dan gold, kondisi seperti ini biasanya menghasilkan volatilitas tinggi dengan pergerakan market yang cepat berubah mengikuti headline global dan data ekonomi AS.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.

Kéo lên để cập nhật