- Dolar AS menguat akibat ketegangan Timur Tengah dan harga minyak tinggi.
- Data inflasi AS dorong ekspektasi Fed pertahankan suku bunga.
- Mata uang lain melemah, termasuk rupiah dan rupee India.
Ipotnews - Dolar AS menguat secara luas, Selasa, seiring belum adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak mendorong kekhawatiran investor bahwa suku bunga mungkin perlu tetap tinggi untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Investor kini ketar-ketir gencatan senjata yang diberlakukan sejak 7 April bisa terancam dan permusuhan kembali terjadi dalam konflik yang dimulai akhir Februari, yang menewaskan ribuan orang dan menghentikan aliran energi vital, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (12/5).
Dengan Selat Hormuz yang krusial sebagian besar tertutup, kontrak berjangka Brent naik 0,6% menjadi USD104,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di USD98,93 per barel, melompat 0,89%.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berada "di ambang kehancuran" setelah perdebatan terbaru terkait proposal perdamaian Amerika Serikat memperlihatkan kedua pihak masih jauh berbeda dalam sejumlah isu.
Pasar mata uang menunjukkan suasana risk-off, dengan fokus bergeser pada kunjungan Trump ke China, pekan ini, serta laporan inflasi Amerika yang dijadwalkan rilis hari ini. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga berada di Asia untuk pertemuan di Jepang dan Korea Selatan.
Euro melemah 0,24% menjadi USD1,1754, sementara poundsterling dibeli USD1,3575, turun 0,26%.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di posisi 98,17, naik 0,2%.
Dolar sempat mendapatkan manfaat dari aliran modal safe-haven ketika perang pertama kali pecah, namun sebagian besar keuntungan tersebut menghilang, dan pergerakan dolar tetap berfluktuasi seiring prospek perdamaian dan gencatan senjata yang tampak rapuh.
Christopher Wong, analis OCBC , mengatakan penolakan Trump atas respons Iran terhadap proposal perdamaian Amerika membuat pasar tetap hati-hati dan memberikan dasar penguatan bagi dolar.
"Meski demikian, penguatan dolar relatif terbatas, menunjukkan pasar belum sepenuhnya menganggap berita terbaru sebagai shock risk-off," ujar Wong. "Jika terjadi keruntuhan diplomatik atau eskalasi militer baru, reaksi pasar bisa jauh lebih besar."
Data Inflasi AS
Sorotan utama kini tertuju pada laporan inflasi Amerika, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan harga konsumen 0,6% pada bulan lalu, setelah melonjak 0,9% di Maret, menurut survei Reuters terhadap sejumlah ekonom. Estimasi berkisar antara 0,4% hingga 0,9%.
Data ini akan memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan besar bakal mempertahankan suku bunga tetap dalam jangka dekat. Pasar sekarang hampir menghapus peluang pemotongan suku bunga tahun ini, dibandingkan dua pemotongan yang sebelumnya diperkirakan sebelum konflik Iran pecah.
"Risikonya adalah inflasi inti bisa lebih tinggi dari ekspektasi konsensus karena efek lonjakan harga energi terhadap harga lain seperti tiket pesawat dan pangan," kata Sarah Hammoud, analis Commonwealth Bank of Australia. "Kejutan kenaikan inflasi inti Amerika akan mendorong suku bunga dan dolar melesat."
Sementara itu, yen bergerak fluktuatif di level 157,12 per dolar, seiring trader menimbang komentar Bessent dan rekannya dari Jepang, Satsuki Katayama, setelah pertemuan mereka di Tokyo. Bessent menegaskan bahwa AS dan Jepang menjaga koordinasi "konstan dan kuat" dalam mengatasi pergerakan mata uang yang terlalu volatil.
Komentar tersebut memperlihatkan Washington umumnya menyetujui intervensi pembelian yen baru-baru ini oleh Jepang untuk menopang mata uangnya yang melemah, yang meningkatkan biaya impor dan menekan ekonomi domestik.
Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun 0,27% ke posisi USD0,723 menjelang rilis anggaran federal, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,17% jadi USD0,59531.
Penguatan dolar menimbulkan tekanan pada mata uang pasar negara berkembang, dengan rupiah dan rupee India menyentuh level terendah sepanjang masa. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
Được in lại từ indopremier_id, bản quyền được giữ lại bởi tác giả gốc.
Tuyên bố miễn trừ trách nhiệm: Quan điểm được trình bày hoàn toàn là của tác giả và không đại diện cho quan điểm chính thức của Followme. Followme không chịu trách nhiệm về tính chính xác, đầy đủ hoặc độ tin cậy của thông tin được cung cấp và không chịu trách nhiệm cho bất kỳ hành động nào được thực hiện dựa trên nội dung, trừ khi được nêu rõ bằng văn bản.
Bạn thích bài viết này? Hãy thể hiện sự cảm kích của bạn bằng cách gửi tiền boa cho tác giả.

Để lại tin nhắn của bạn ngay bây giờ